28 Februari, 2012

Kunjungan singkat ke Kota Padang

Kisah ini terinspirasi dari seorang teman yang berasal dari Padang, mendengarkan betapa dia menikmati berada di kota kelahirannya tersebut, jadi teringat pernah menginjakan kaki juga di kota itu tahun lalu. Tepatnya pada bulan Juli 2011.
Keberangkatanku ke kota itu bermula dari undangan pernikahan seorang teman kantor, karena mendapat penugasan dari Kepala Bagianku,akhirnya ak dan teman sebagianku Ance berangkat ke Padang. Beberapa teman dari bagian lain juga turut serta dalam perjalanan ini, meskipun berbeda maskapai penerbangan dan jam keberangkatan. Perjalanan ke Padang hampir sama dengan perjalanan menuju Medan (secara sama-sama berada di Pulau Sumatera), tapi waktu tempuhnya jauh lebih singkat daripada ke Medan yaitu 1 jam. Beginila penampakan Bandara Minangkabau:

Sesampainya di Kota Padang masih terasa bingung, belum tau mau kemana karena ga kenal siapapun dan ga tau mau kemana. Akhirnya dengan modal bertanya-tanya kami memutuskan untuk naik damri menuju salah satu mall di Kota Padang, namanya Mall Basko, konon katanya salah satu Mall besar di kota ini. Ukuran mallnya tidak begitu besar ternyata, sebesar Mall Atrium Senen di Jakartala, bahkan lebih kecil. Tapi sepertinya anak gaul Kota Padang ini nongkrongnya disitu semua, hehehehe. Dan yang terasa aneh adalah di Mall itu tidak terdapat bioskop. Bioskop hanya ada satu disana dan terletak ‘dekat’ di belakang Mall itu. Karena jarak bioskop yang katanya ‘dekat’ itu, kami memutuskan untuk berjalan kaki, dan ternyata ampun jauhnya bukan main. Sepertinya penduduk kota ini sudah terbiasa dengan berjalan kaki jauh makanya jarak sejauh itu dikatakan dekat. Sesampainya di bioskop Raya tersebut,kami hanya bisa tertawa melihat kondisi dan isi film-film yang ada di bioskop itu karena film yang diputar kebanyakan film yang sudah berkali-kali tayang di HBO dan kondisi bioskopnya cukup memprihatinkan juga dibandingkan dengan kebanyakan bioskop di Kota Jakarta (sombong anak mudanya :D)




Akhirnya karena tidak ada film yang menarik untuk ditonton, kami memutuskan untuk kembali ke Mall saja dan menunggu kedatangan teman-teman kami dari Jakarta. Setelah bertemu dengan mereka, kami memutuskan untuk makan, tentu saja makan makanan Padang, selagi ada di Padang tentunya, makan sepuasnya.

Kenyang perut senangla hati, kemudian perjalanan pun dimulai. Setelah meletakkan barang-barang di hotel kami diajak berkeliling kota Padang dengan rute pertama tentunya Legenda yang sudah cukup terkenal : MALIN KUNDANG. Patung Malin Kundang yang sudah kita ketahui bersama kisahnya terletak di Kota Padang, tepatnya di Pantai Air Manis. Jangan memikirkan pantai yang bagus seperti di Kepulauan Seribu ataupun di Pantai Kuta Bali. Karena pantainya jauh dari kesan bersih dan terawat. Melihat kondisi Patung Malin Kundang dan kapalnya juga cukup menyedihkan, karena seperti tidak diperhatikan. Tampaknya Pemerintah Kota Padang ini tidak memberikan perhatian yang cukup besar terhadap objek wisata satu ini. Dari yang kami lihat selama disana kebanyakan penduduk lokal yang berkunjung kesana, untuk bermain bola ataupun sekedar bermain air di pinggiran pantai.




Dalam perjalanan pulang menuju hotel, kami melewati perumahan penduduk. Hampir sama kondisinya dengan di kampungku Tarutung, Sumatera Utara. Di masing-masing rumah ada yang jualan durian, dan kami beruntung sekali karena salah seorang Kepala Bagian menyukai Durian, jadila kami berhenti sebentar untuk menikmati durian. Penjualnya pun menggelar tikar tepat di bawah pohon duriannya, lalu kami disajikan durian, air cuci tangan dan minuman. Hmmm mantap sekali suasananya. Serasa di kampung halaman sendiri 


Hari kedua di Padang kami lalui dengan mengikuti pesta pernikahan ala masyarakat Padang, ya seharusnya agenda utama kami ya memang menghadiri acara ini. Pesta adat Padang ini berbeda dengan pesta adat Batak. Jauh berbeda, dari segi tempat penyelenggaraan, busana pengantin, makanan yang disajikan, tempaty duduk tamu dan tentu saja konsep acaranya. Yang paling menyiksa adalah tidak ada daging Babi dalam acara ini, hehehehe. Kasian juga liat pengantin wanitanya, soalnya kayaknya hiasan yang di atas kepalanya berat banget, sampai melihat kanan kiri juga terasa berat untuk menoleh, yang sabar ya mbak, demi menjadi ratu sehari . Untuk persoalan makanan bisa diacungin jempol, makanan masakan Padang ni enak semua. Mungkin karena sama-sama masih lidah orang Sumatera jadi terasa enak semuanya. Tamboh ciekk!!!!





Dan setelah selesai menghadiri pesta pernikahan teman kami itu, petualangan pun dimulai kembali. Kali ini kami akan mengunjungi Ngarai Si Anok, Goa Jepang dan Jam Gadang tentunya. Dalam perjalanan menuju kesana, di pinggir jalan ada air terjun. Berhenti sebentar demi foto-foto. Sepertinya air terjun ini cukup menarik perhatian pengendara yang melintasinya. Menyegarkan mata sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju Lembah itu menghabiskan waktu sekitar 2 jam sepertinya. Sampai tidur berkali-kali ga sampai juga. Yang ga enaknya baterai kamera habis ketika kami sudah tiba di goa jepang, jadi ga sempat berfoto sama sekali. Padahal gua jepang itu bagus untuk difoto. Di dalam Gua Jepang itu terasa dingin dan lembap, sepertinya ada banyak penghuninya yaitu mahluk-mahluk alam gaib. Apalagi konon katanya itu adalah tempat penyiksaan penduduk Indonesia, issshhh seram membayangkannya. Sepanjang goa ada masing-masing lorong yang berbeda-beda fungsinya. Ada yang untuk tempat tidur bagi para tentara Jepang, restoran, lumbung senjata, dan juga ada bioskopnya. Tapi tetap saja ga enak diliat, serammm... Apalagi di dapurnya yang konon katanya tempat penyiksaan terhadap penduduk atau tentara indonesia berlangsung, ada lubang penghubung ke luar gua tempat mayat-mayat korban siksaan dibuang, ihhh. Ga betah lama-lama berada di dalam gua itu, kepala pusing rasanya. Mikirin betapa kejamnya penyiksaan zaman kemerdekaan dulu. Hormatku bagimu Pahlawan Bangsa. Salut!!!



Kemudian perjalanan kami pun berlanjut lagi menuju Jam Gadang. Keren euy pemandangannya, walaupun sebenarnya jam Gadangnya biasa aja,hehehe. Gak kok, keren juga ga kalah jauh sama punyanya Inggris. Kami cukup beruntung ketika berkunjung kesana, karena sesampainya disana ada pelangi, indah sekali. Rasanya ga cukup berkali-kali foto. Senang sekali. Setelahnya kami belanja oleh-oleh di Pasar atas. Harganya lumayan murah-murah. Ga kayak belanja di objek wisata di Danau Toba, banyak terjadi penipuan kalau ga pintar bahasa Batak. Di Padang ini penjualnya lumayan jujur-jujur, tidak menaikkan harga terlalu tinggi, membuat kita nyaman untuk berbelanja. Mari-mari belanja sepuasnya.




Akhirnya petualangan kami di Padang pun berakhir. Tugas negara sudah menanti di Jakarta.
Sampai ketemu lagi Kota Padang pada kunjungan berikutnya, Terima kasih atas sambutannya yang hangat 



Tidak ada komentar: