Jakarta, 27 April 2012...
Bromo....
Kisah ini dimulai dari sudut sebuah Cafe di Sarinah, dari percakapan ringan bersama sahabatku si Kam, akhirnya tercetuslah ide untuk menikmati liburan bersama ke Surabaya, tepatnya ke ojek wisata Bromo. Akhirnya impian untuk menginjakkan kaki di salah satu daerah lain selain Jakarta di Pulau Jawa ini tercapai juga :)
Perjalanan kali ini kami memilih menjalaninya berdua saja, bukan kenapa2, cuman mungkin ya masing-masing merasa nyaman dengan berdua saja, kalau tambah orang malah semakin banyak yang harus dipikirkan. Mulai dari membeli tiket kereta api yang menuju Surabaya, hampir saja kami tidak jadi berangkat mengingat jadwal perjalanan kami bertepatan dengan libur panjang 4 hari, hampir semua orang juga ingin pulang sebentar ke Kampung Halamannya, tapi akhirnya kami berhasil mendapatkannya.
Berangkat Tomkamm!!!
Sebelum keberangkatan banyak hal yang harus dipersiapkan seperti misalnya menyusun jadwal dan rute selama di sana, membeli perlengkapan untuk naik gunung, browsing segala hal yang berkaitan dengan Bromo juga tentunya. Baiklah tiket sudah di tangan, peralatan juga sudah lengkap semua. Akhirnya kamipun berangkat menuju Surabaya dengan segala macam pertanyaan di hati apa yang nantinya akan terjadi disana, mengingat kami sama-sama orang Sumatera yang belum mengetahui apapun tentang Surabaya. Dengan kereta api eksekutif Gumarang seharga Rp.320.000,- per orang, kami menempuh perjalanan selama 12 jam menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Selama di kereta api banyak hal-hal lucu terjadi. Salah satunya ya kejadian ketika para petugas PT KAI menawarkan kepada kami segala macam makanan, minuman dan handuk panas. Karena ini pengalaman pertama kami, jadi kamipun mengiyakan semua penawaran yang diberikan oleh para petugas itu karena kami berpikir bahwa itu semua gratis sebagai pelayanan dari pihak PT KAI. Ternyata jauh dari dugaan, kami harus membayar semuanya. Mulai dari makanan, minumuman sampai handuk hangat, bangkrut juga, hehehe.. untunglah untuk bantal dan selimut tidak dimintakan bayaran juga. Sepanjang perjalanan kami kebanyakan bercerita tentang hal-hal yang dialami dalam pekerjaan masing-masing, senangnya punya sahabat seperti si kam, bersamanya bisa menceritakan berbagai hal dan lalu akan diberikan pencerahan2 untuk melaluinya. Tks Tomkam :) :) (maaf tidak ada foto untuk keberangkatannya, berhubung malam jadinya males foto2 *alasan), dan sekitar jam 3 pagi sepertinya masing-masing kami tertidur.
Sekitar jam 6 pagi, kami dibangunkan oleh petugas, ternyata udah sampai Surabaya. Punggung rasanya masih terlalu pegal, 12 jam tidak bergerak kemana2. Tapi mengingat perjalanan kali ini temanya jalan-jalan, hilang rasa capeknya. Di stasiun Pasar Turi itu, kami cuci muka dulu di salah satu WC Umum, dan seperti pada umumnya, WC nya kotor dan bau. Jadi ga selera. Stasiun Pasar Turi pagi itu sudah dipadati oleh para tukang becak, supir taksi dan angkutan umum yang berebut menawarkan jasanya kepada para penumpang Kereta Api yang baru turun. Berhubung si Kam sudah hampir 12 jam tidak merokok, akhirnya kami berhenti sebentar, menemaninya merokok sekaligus membicarakan kami maw kemana dan naik apa (maklumlah baru tersadar ternyata rute perjalanan ketinggalan di kantor, tapi ada ipad si kam yang selalu setia membantu). Kami pun memutuskan untuk naik taksi menuju salah satu penginapan 'murah' di kota Surabaya. Untungla ada supir taksi baik hati yang bersedia mengantarkan kami ke salah satu wisma yang konon katanya murah. Benar ternyata, wisma yang tidak terlalu jauh dari stasiun itu harga per kamarnya RP60ribu/malam. Langsungla kami mengiyakannya. Fasilitas yang didapat? Yah jangan diharapkan yang gimana2, hanya tersedia tempat tidur twins dengan kondisi yang sebenarnya memprihatinkan. Tempatnya lembab dan bau sebenarnya, kamar mandinya juga terkesan kotor. Tapi yah mengingat kami hanya menghabiskan waktu 2jam di tempat itu, akhirnya kami bersedia beristirahat sebentar disitu. Kami tidur sekitar 1 jam, tapi aku malahan tidak tidur sama sekali, entah kenapa aneh rasanya, ak merasa tidak nyaman. Sepertinya ada aura mistis disana *halah... :D
Setelah cukup beristirat kamipun memutuskan untuk makan siang dulu. Untuk perjalanan bersama si Kam ini janganlah mengharapkan untuk makan masakan khas daerah, karena si kam ini sangat menyukai masakan Padang (sesuai asalnya), jadila di Surabaya ini kami makan masakan Padang (selalu ).... enak juga kok (menghargai teman :D). Selepas makan kami naik becak kecil yang ternyata muat untuk 2 orang sebesar kami. Kami berniat ke Tunjungan Plaza (salah satu mall terbesar di Surabaya) juga untuk menunggu datangnya waktu shalat Jumat (si kam kan muslim, jadi harus ibadah dululah). Tukang becaknya cukup kuat membawa kami berdua, apalagi jalan yang dilaluinya cukup jauh, dari gang kecil yang banyak polisi tidurnya alias tanjakan, karena tidak tega uang becaknya aku tambahin jadi 20ribu, kasian bapaknya. Dan sepertinya beliau bersyukur sekali ketika dikasi segitu, Ah senang sekali melihat senyumnya. Tks Tuhan.
Tunjungan Plaza Surabaya besar sekali ternyata, dan kalau aku bandingkan dengan Grand Indonesia Jakarta sepertinya mall ini tidak kalah jauh. Outlet yang ada juga hampir sama dengan di GI. Mulai dari manggo, zara, leviz, hush puppies, charles and keith, dll. Mantap juga... Ada starbucks juga tentunya. Dan akpun menunggu si kam shalat jumat di Starbucks, gppla dilama2in selama ada ice signature chocolate, pasti saya betah menunggu... :)



Selepas sholat, si kam pun berniat untuk membeli topi di salah satu outle **** yang ada disana. Ya biasalah sahabatku yang satu itu sangat memperhatikan penampilannya, jadinya dia kurang pede jika tidak memakai topi. Dan penampilannya menjadi seperti ini:

Akhirnya kami memutuskan untuk menuju Bromo. Dengan menaiki taksi kami menuju terminal bus Bungur Asih untuk kemudian menuju Probolinggo, harga tiket busnya sekitar Rp.25.000/orang dengan lama perjalanan sekitar 2 jam. Sesampainya di Probolinggo, kami harus menunggu mobil yang akan membawa kami ke Cemoro Lawang. Biasanya mobil itu akan lama ngetem nya karena harus menunggu sampai penuh dulu, barulah berangkat. Kami menunggu sekitar 2 jam sambil makan siang. Disini kami berkenalan dengan salah seorang turis asing yang bernama Abraham. Dia berasal dari London dan datang sendiri ke Indonesia untuk berwisata, salut juga. Kami membicarakan begitu banyak hal dengannya, antara Indonesia dan Inggris tepatnya. Bagaimana kondisi kehidupan disana sampai dengan ketidak percayaannya akan adanya Tuhan. Kami juga sempat menelepon salah satu penginapan di Cemoro Lawang mengingat konon kabarnya semua penginapan di sana rata-rata sudah penuh. Dan kami memesan 2 kamar, satu untuk Abraham dan yang satunya untuk ak dan Kam. Akhirnya penumpang penuh juga. Aku dan si kam memilih untuk duduk di depan. Perjalanan ke Cemoro Lawang sekitar 1 jam dengan biaya sekitar Rp.25ribu/orang. Sesampainya di Cemoro Lawang, kami langsung menuju penginapan yang telah dipesan sebelumnya. Dengan biaya Rp.120ribu/kamar. Wuihh ternyata disana dingin sekali di malam hari. Kami juga sempat melakukan tawar menawar dengan penduduk sekitar mengenai biaya mobil zip yang akan digunakan esok subuh. Masing-masing pengemudi menawarkan harga yang berbeda. Kapasitas mobil zip tersebut adalah 6 orang dengan total sekali berangkat adalah sekitar Rp.500.000 dan itu sudah untk mengunjungi 4 objek sekaligus yaitu Pananjakan 1, Kawah Bromo, Savana dan Pasir Berbisik. Namun karena jumlah kami yang cuman bertiga, sulit sekali untuk menyepakati harganya karena jadi kemahalan kalau dibagi tiga. Tapi entah darimana tiba-tiba Abraham berhasil mendapatkan penawaran sekitar 100ribu/orang untuk 4 objek wisata sekaligus. Lumayan murah. Tks Abraham.
Setelah selesai tawar menawar kami memutuskan untuk memesan makan malam pada penduduk sekitar. Karena dinginnya udara malam itu ak memakai baju sampai 4 lapis plus jaket dan sarung tangan. Dan ternyata listrik di Cemoro Lawang sering mati di malam hari. Lengkaplah dinginnya malam itu. Tapi berhubung esok harus bangun jam 3 pagi,kamipun memutuskan untuk langsung tidur saja.
BROMO ya Tomkammmm :) :D
Pananjakan I
Sekitar jam 3 pagi, kami sudah dibangunkan oleh Abraham. Brrrr dinginnya luar biasa. Dan yang luar biasanya adalah ternyata Abraham baru selesai mandi, waduh parah, ga kebayang itu gimana dinginnya airnya. Ak cuman memilih untuk mencuci muka saja karena airnya udah kayak es aja dinginnya. Lalu kami pun menunggu zip datang menjemput kami. Pagi itu begitu banyak zip yang akan naik ke Pananjakan 1, seperti melihat kemacetan pagi hari di Jakarta pindah ke Bromo *lebay... Setelah menunggu sekitar 1/2 jam akhirnya zipnya datang juga. oia, ada 4 tamu lain lagi dalam perjalanan kami ini. Ada pasangan yang berasal dari Singapore dan yang dua lagi dua orang wanita yang berasal dari Surabaya. Kamipun berangkat!! Sepanjang jalan tidak bisa melihat apapun karena diluar masih begitu gelap. Lalu mobil zip itu berhenti dan kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sampai ke puncak. Perjalanan menuju puncak rasanya jauh sekali. Dengan jalan menanjak terus dan berlumpur, medannya cukup parah teman. Sepanjang perjalanan ak kebanyakan mengeluh kecapekan,kaki rasanya mw putus. Tapi berbeda dengan Kam dan Abraham yang rasanya santai saja berjalan. Padahal si kam perokok loh, tapi dia tidak terlihat begitu capek. Akhirnya karena tidak tahan lagi ak memutuskan untuk naik kuda sampai ke tangga utama. Karena berikutnya ada sekitar 300 anak tangga yang harus kita jalanin untuk mencapai puncak. Abraham sempat memanggilku Princess of Bromo karena dianggap memilih untuk naik kuda. Tidak seperti mereka yang memilih berjalan kaki sampai puncak. Oia biaya kudanya sekitar 50ribu sampai ke anak tangga pertama. Darisitu kami berjalan sampai ke Puncak. Capeknya luar biasa. Tapi sepertinya pagi itu kami belum beruntung untuk melihat sunrise karena ada begitu banyak kabut, sehingga terhalang untuk melihat terbitnya matahari. Oia, menurut penduduk setempat waktu yang paling baik untuk melihat matahari adalah di bulan Juni dan Juli karena sudah jarang hujan sehingga matahati akan terlihat begitu indahnya. Kamipun memutuskan untuk berfoto-foto saja. Dan seperti biasa Abraham melakukan kehebohan dengan mengajak berfoto orang-orang yang ada di Pananjakan. Dan entah kenapa ak berpikiran orang-orang itu menganggap ak dan kam adalah translaternya si Abraham, padahal boleh ketemu di jalan :)





Dan setelah puas berfoto-foto kami memutuskan untuk turun ke bawah karena akan melanjutkan perjalanan berikutnya ke Kawah Bromo. Untuk perjalanan pulang jauh lebih menyenangkan karena matahari sudah terbit dan jalanannya turunan. Kita bisa melihat pemandangan di sekitar kita, indah sekali. Akhirnya kelihatan juga tangga yang kita lewati dan jalan berlumpur yang telah dilalui tadi pagi. Sepanjang perjalanan turun ke bawah kami sering berhenti sesaat untuk berfoto karena begitu banyaknya spot yang bagus.
Kawah Bromo
Kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Bromo. Lama perjalanan sekitar 15 menit dari Pananjakan 1. Sesampainya di sana, pemandangan begitu indah. Wow, hanya itu yang bisa diucapkan. Begitu turun dari zip, sudah banyak orang yang menawarkan untuk naik kuda. Tapi karena udah terlanjur malu diejekin sepanjang Pananjakan akhirnya aku memutuskan untuk menuju kawah Bromo dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan ak terus menerus mengambil foto, senang rasanya, pemandangan begitu indahnya.





Dan ternyata perjalanan menuju Kawah Bromo jauhnya bukan main. Dua kali lipat dari Pananjakan. Tapi jalannya tidak begitu mendaki. Dan setelah capek yang teramat sangat, kita harus kembali menaiki anak tangga sebanyak 100. Fuiiihhhh, ada tangga dimana2 sepertinya di Bromo ini. Kali ini para wisatawan yang menaiki tangga itu pelan-pelan karena mungkin sudah terlanjur capek. Kali ini saya mendukung keputusan orang-orang yang memilih untuk naik kuda karena hal itu benar-benar menghemat tenaga. Sesampainya di atas kawah, akhirnya kita bisa melihat semua pemandangan dari atas Bromo. Sekeliling kita hanya ada gunung dan padang Pasir. Dan lagi-lagi Abraham melakukan kegaduhan dengan menaiki puncak tertinggi, padahal sepertinya itu membahayakan loh, tapi dia asyik saja kesana kemari. Salut ee, ak dan si kam hanya bisa memandanginya dari jauh. Oia ada ritual di Bromo ini kalau kita berhasil melemparkan bunga edelweis ke kawah Bromo maka doa kita akan dikabulkan. Lalu berbekal dengan bunga yang dibeli si Kam akhirnya akpun melempar bunga ke arah kawah dengan doa semoga persahabatan ak dan kam dapat terus berlanjut selamanya, Amin...
Setelah puas klik klik kamipun memutuskan untuk turun karena akan melanjutkan perjalanan ke Pasir Berbisik, Savana dan Bukit Teletubbies.





Siang itu cuaca di Bromo sangatlah panas, matahari tampaknya bersinar dengan semangatnya. Perjalanan menuju savana memakan waktu sekitar setengah jam dari Kawah Bromo. Sepanjang perjalanan kembali yang ada hanyalah padang pasir. tapi ada juga loh yang melakukan pra wedding disitu. Salut liat pengantin wanitanya yang memakai kebaya di tengah terik matahari. wuihhh!!! Sesampainya disana kembali hanya berfoto-foto lagi. Awan yang cerah, matahari yang panas, pemandangan yang menakjubkan, wah Rahmat Tuhan luar biasa. Perjalanan kali ini kebanyakan aku yang mengambil foto mengingat si kam kalo ambil foto ga begitu bagus, hadehh harus diajarin dulu berkali-kali tampaknya, ya ujung2nya kebanyakan foto si kam malahan. oo Padang. Setelah puas berfoto disana kami melanjutkan perjalanan ke Pasir Berbisik, sekeliling hanyalah Padang Pasir. Dengan matahari yang menyengatnya luar biasa panas. Tapi saya senang.. :)





Akhirnya semua tempat sekeliling Bromo telah berhasil kami jalanain. Senang rasanya telah berhasil melalui semuanya. Lalu kamipun makan siang di salah satu restoran di Cemoro Lawang, kemudian kembali ke penginapan untuk bersiap-siap kembali ke Surabaya. Berpisah dengan Abraham menyenangkan rasanya, capek juga semalaman berbicara dalam bahasa asing dengannya, hehehe.. till we meet again dude. Perjalanan pulang ke Surabaya melewati rute yang sama dengan yang dilalui tadi malam. Ternyata jalan yang kita lalui di kanan kirinya adalah jurang, ihhhh ga kebayang kemarin melewatinya dalam suasana gelap2an. Sesampainya di Surabaya kami menginap di Hotel Tanjung Indah dengan biaya sekitar Rp.150.000/malam. Hotel ini terletak di tengah kota. Malamnya kami lewati dengan makan masakan khas Surabaya yaitu Rawon Setan yang terletak di depan JW Mariot (berhasil membujuk si kam untuk tidak makan masakan Padang).Enak juga, namun harganya cukup mahal, ya mungkin karena sudah cukup terkenal juga di Surabaya. Setelahnya kami duduk2 di salah satu cafe di kota Surabaya untuk menghabiskan malam.
Suatu hari di Surabaya
Keesokan harinya kami memutuskan untuk menikmati kota Surabaya seharian. Dimulai dengan menuju jembatan Suramadu. Jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Madura. Tapi sayangnya sekarang tidak bisa lagi berhenti di tengah2 jembatan untuk berfoto, jadi kami memutuskan untuk menaiki perahu di bawah jembatan itu. Biayanya sekitar Rp.10.000/orang dan kita akan memutari jembatan itu dengan perahu mesin sampai ke tengah-tengah jembatan lalu kembali lagi.


Sekedar informasi dari jembatan Suramadu itu untuk kembali ke kota surabaya sulit sekali mendapatkan angkutan umum. Penduduk disana beranggapan mungkin karena hari Minggu jadi susah mendapatkan angkutan. Akhirnya keputusan kembali memilih taksi dan itu juga memerlukan waktu yang lama sekitar 30 menit barulah datang. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Sampoerna House yang merupakan cikal bakal berdirinya perusahaan rokok terbesar saat ini Sampoerna.
Berlokasi di Jl. Taman Sampoerna No.6, Surabaya, Jawa Timur, House of Sampoerna menggunakan bangunan kuno warisan zaman Belanda yang dibangun pada tahun 1862. Liem Seeng Tee pendiri Sampoerna, membeli tempat ini di tahun 1932 dan kemudian menjadikannya sebagai tempat produksi rokok Sampoerna yang pertama. House of Sampoerna ini dulunya adalah pabrik rokok pertama milik dinasti Sampoerna. Bangunan berarsitektur Belanda ini dibangun sejak 1862, tapi baru dibeli oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna pada tahun 1932. House Of Sampoerna terdiri dari bangunan utama yang berbentuk auditorium dan juga 2 bangunan lainnya yaitu Rumah Barat dan Rumah Timur. Bangunan utama tersebut sekarang digunakan sebagai museum, Rumah Timur digunakan sebagai cafe dan Rumah Barat masih ditinggali oleh keluarga Sampoerna. Kisah keluarga pendiri Sampoerna dikemas dalam berbagai foto dengan sentuhan ornamen klasik tempo dulu, lengkap dengan fasilitas yang digunakan dalam produksi rokok saat masih menggunakan peralatan tradisional. Didalam museum ini bisa menemukan berbagai macam jenis-jenis tembakau dan cengkeh serta cara pemrosesannya, mulai dari pencampuran, hand-rolling dan pengemasan, pencetakan, sampai pemolesan akhir sebelum rokok-rokok tersebut dipasarkan ke konsumen. Tak hanya itu, benda-benda langka seperti sepeda 'unta', meja, kursi, lemari, dan lampu kuno, telepon model zaman dulu, sepeda motor unik, oven tradisional Sumbawa, peralatan drum band dan marching band lengkap dengan seragamnya, tiruan warung tradisional, brankas model kolonial Belanda, dan lain-lain juga ada disini. Tidak ada pungutan biaya dalam bentuk apapun di kawasan House of Sampoerna. Mulai dari tempat parkir, masuk ke Museum dan Art Gallery sampai penggunaan SHT, semuanya gratis. Selama di House of Sampoerna anda akan ditemani para pemandu wisata yang sangat ramah dan siap memberikan semua informasi mengenai House of Sampoerna baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. House of Sampoerna juga menyediakan angkutan bis tamasya gratis ke tempat-tempat bersejarah di Surabaya lainnya (Surabaya Heritage Track atau SHT) kepada pengunjung. Bagi penggemar fotografi, diperbolehkan melakukan pengambilan gambar dan video disekitar kawasan House of Sampoerna untuk kebutuhan pribadi. Mari kembali klik klik sana sini.




Setelah selesai dari House of Sampoerna, kami kembali melanjutkan menuju Rumah Batik. Rumah Batik ini terletak di jalan Tambak Dukuh I No. 4 Surabaya. Di dalamnya berisikan batik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tapi kali ini entah kenapa ak ga begitu tertarik untuk memilih, memikirkan untuk menjahitnya saja ribet. Si kam akhirnya membeli salah satu batik, yang akan diberikan untuk adiknya. So sweet x si kam ini :).
Tidak terasa udah sore ternyata, kami kembali melanjutkan perjalanan ke salah satu toko tshirt yang terkenal di Surabaya. Letaknya dekat dengan Universitas Airlangga, nama kausnya Jancuk. Maaf, kalau sedikit kasar, tapi ya begitula merk kausnya. Setelah puas memilih lalu kamipun melanjutkan dengan berjalan-jalan ke TUnjungan Plaza, senang kesana. Hanya untuk makan dan minum ice chocolate. Sekedar informasi selama di Surabaya kami kebanyakan memilih angkutan becak dan taksi tentunya (kesukaan si kam).
Pulang dari Tunjungan Plaza kami memilih untuk berjalan kaki, karena suasana sudah malam tidak panas lagi, dan lagian untuk menghemat biaya juga, hehehehe..Sesampainya di hotel barula terasa capeknya. Seharian penuh kami mengitari kota Surabaya ini, dan esok paginya waktunya kami kembali ke Jakarta.
Jakarta-Surabaya-Bromo-Surabaya-Jakarta (22 Maret 2012-25 Maret 2012)
Selesai sudah perjalanan wisata kali ini. Terimakasih Tomkam atas kesediannya berjalan2 bersamaku. Sampai ketemu lagi di perjalanan kita berikutnya, Terima kasih juga kepada Tuhan yang telah menyertai perjalanan kami ini. Menjadikan suatu kenangan indah untuk diingat. Makasi banyak Kam eee :) :)

